Hasil logis dari pemahaman tentang keharusan dakwah seperti diuraikan di atas adalah bahwa dakwah harus dimaknai dengan cara yang lebih luas. Tidak hanya berbicara secara lisan, dakwah harus dipahami sebagai sebuah sistem untuk merealisasikan ajaran Islam, baik secara mikro maupun makro. Secara mikro, dakwah merupakan sistem yang saling terkait antara da’i, mad’u, media, materi, metode, dan evaluasi. Secara makro, dakwah merupakan subsistem dari sistem kehidupan masyarakat yang selalu ada dan diperhatikan. Aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya suatu masyarakat tidak hanya dapat melihat kemajuan dan kemundurannya, tetapi dakwah Islam juga harus mempertimbangkan keberadaannya. Karena dakwah adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat
Para aktivis dan penulis dakwah kontemporer telah menggunakan makna ini. Dalam konteks dakwah kontemporer, setidaknya ada empat pendekatan pemaknaan yang berbeda.
Yang pertama adalah pendekatan politik, atau orientasi politik. Dakwah digunakan sebagai sebuah gerakan untuk mendorong sistem politik alternatif, mengubah sistem yang ada, memasukkan dakwah ke dalam politik kontemporer, dan menentang sistem politik yang tidak Islami.
Kedua, pendalaman. Gerakan dakwah digunakan untuk meningkatkan iman umat Islam selain menyampaikan kebenaran kepada orang yang tidak beragama Islam. Ada dua alasan mengapa pendalaman ini diperlukan dalam konteks kontemporer, yaitu: Pertama, materialisme dan sekularisme berkembang di era modern, yang sangat berbeda dengan Islam, menyebabkan umat Islam harus diperlengkapi dengan keimanannya melalui pendidikan. Kedua, para aktivis dakwah berpendapat bahwa karena pemerintahan saat ini di negara-negara Muslim adalah hasil dari kolonialisme Kristen Barat, pemerintahan saat ini masih ada dan harus dihilangkan melalui dakwah
Ketiga, sebagai institusi pendidikan dakwah kontemporer seperti Akademi Dakwah, yang didirikan tahun 1985 oleh Universitas Internasional Islamabad di Islamabad, Pakistan, dan School for Training Muslim Missionaries, yang didirikan oleh Muhammad Rasid Ridha di Istanbul. Keempat, dakwah yang berfokus pada kesejahteraan sosial, seperti yang dilakukan oleh Liga Muslim Dunia, Komite Dunia Muslim untuk Da’wah dan Bantuan, WAMY, ABIM, dan lainnya
Dengan pemaknaan dakwah yang luas ini, aktivitas dakwah dapat berkembang menjadi aktivitas yang disampaikan kepada masyarakat dalam berbagai cara, sehingga dakwah sebagai sistem untuk merealisasikan ajaran Islam dapat terwujud.










