Di era modern ini, dakwah diharapkan menangani berbagai masalah dan masalah yang semakin kompleks. Hal ini terjadi meskipun masyarakat semakin maju dan beradab. Masyarakat agraris, di mana manusia hidup dengan kesederhanaan dan kesahajaan, tentunya memiliki masalah hidup yang berbeda dengan masyarakat modern, yang lebih materialistik dan individualistik. Begitu juga, tantangan dan masalah dakwah akan menghadapi berbagai masalah yang sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.
Karena aktivitas dakwah tidak tergantung pada masyarakat, perkembangannya seharusnya sejalan dengan perkembangan masyarakat. Artinya, upaya dakwah harus dapat mengikuti perkembangan dan transformasi masyarakat

Masyarakat belum menggunakan dakwah sebagai pedoman untuk menghadapi perubahan. Menurut penulis, ada tiga masalah besar yang dihadapi dakwah saat ini. Pertama, masyarakat umum melihat dakwah sebagai sesuatu yang berbicara, atau tabligh. Akibatnya, aktivitas dakwah lebih berfokus pada ceramah atau tabligh. Salah satu keuntungan kegiatan ceramah adalah kontak langsung antara da’i dan audiensnya (mad’u). Da’i tidak perlu mempersiapkan diri sebelumnya, mad’u tidak memerlukan banyak tenaga untuk berpikir, dan audiens ceramah dapat beragam. Sebaliknya, kegiatan ceramah memiliki kelemahan dasar, yaitu mad’u harus menyediakan waktu yang cukup untuk mengikutinya.

Meskipun demikian, banyak orang di dunia modern tidak memiliki waktu karena kesibukan dalam bekerja. Selain itu, ceramah dapat menjadi membosankan dan menjenuhkan, tidak efektif dalam menyampaikan pesan dakwah karena daya tangkap manusia sangat terbatas, dan kelemahan lain yang terkait dengan kemampuan seorang da’i.

Kedua, masalah epistemologis. Pada era modern, dakwah membutuhkan paradigma keilmuan, bukan hanya rutinitas, waktu, dan tindakan instan. Dengan adanya keilmuan dakwah, tentunya teori-teori dakwah dapat digunakan untuk rujukan dalam hal-hal yang berkaitan dengan strategi dan teknik. Selain itu, dakwah tidak memiliki kerangka teoritis yang jelas dan terus berlanjut. Akibatnya, aktivitas dakwah berjalan tanpa perencanaan dan evaluasi.

Menurut Awis Karni, ada dua masalah yang muncul terkait epistemologi dakwah: Pertama, dari perspektif sejarah munculnya dan perkembangan ilmu Islam, ilmu dakwah tidak termasuk dalam kumpulan ilmu Islam klasik seperti ilmu kalam, filsafat Islam, tasawuf, fiqih, dan hadits. Sementara itu, berbicara tentang siapa mujtahid pertama yang memulai ilmu dakwah juga menimbulkan masalah. Kedua, ada masalah untuk menjelaskan epistemologi dakwah ketika dakwah dilihat dari perspektif teori keilmuan atau filsafat ilmu. Fokus utama penelitian ini adalah sistem dan metodologi, objek penelitian formal dan material, serta aksiologi dakwah dalam menjelaskan kenyataan yang dihadapi dakwah Islam.

Ketiga, masalah sumber daya manusia. Aktivitas dakwah masih dilakukan sebagai pekerjaan sampingan atau secara sambil lalu. Ini berdampak pada banyak da’i yang tidak profesional, kurangnya penghargaan masyarakat terhadap profesi da’i, dan kurangnya manajemen yang dilakukan da’i dalam mengemas kegiatan dakwah. Banyak da’i yang gagap dengan kemajuan teknologi, tidak hanya penelitian dan kurangnya koordinasi antara organisasi dan perguruan tinggi yang bergerak di bidang dakwah dan perencanaan yang matang secara sistematis. Seorang da’i idealnya tidak hanya memiliki keahlian substansial, seperti keahlian dalam materi dakwah dan akhlak, tetapi juga harus memiliki keahlian metodologi agar mereka dapat secara efektif dan efisien membawa keahlian substansial mereka ke masyarakat.

Diharapkan tulisan ini dapat memberikan sedikit pencerahan (enlightenment) dalam memformulasikan persoalan-persoalan dakwah yang muncul di era modern ini. Ini didasarkan pada ketiga persoalan besar tersebut. Tulisan ini juga diharapkan dapat menawarkan solusi alternatif untuk digunakan dalam upaya meningkatkan upaya dakwah Islam. Penulis banyak merujuk kepada al-Qur’an sebagai kitab dakwah dan kitab perjuangan ketika mereka menggabungkan tulisan-tulisan yang ada. Oleh karena itu, pada bagian awal tulisan ini, penulis secara singkat membahas posisi dan peran al-Qur’an dalam dakwah. Selanjutnya, penulis memformulasikan ilmu dakwah, khususnya yang berkaitan dengan dakwah bil qaul secara individual, dan menjelaskan berbagai tema aktual yang dapat ditemukan dalam dakwah.

Categories: