Perencanaan tidak dimulai dengan kertas kosong atau tumpukan buku yang tidak menguntungkan masyarakat. Tentu saja, perencanaan yang baik berbasis pada data empiris yang berkembang di masyarakat (obyek dakwah). Perencanaan dimulai dengan memikirkan apa yang diperlukan obyek dakwah, masalah apa yang dihadapi masyarakat, dan harapan mereka dari aktivitas dakwah. Dengan data ini, kita dapat menemukan model, metode, materi, dan media yang tepat untuk digunakan di masyarakat yang menjadi obyek dakwah.

Dakwah tidak dilihat sebagai kegiatan yang verbalistik, asal-asalan, dan penuh bujuk rayuan dari para aktornya.  Dakwah dapat memahami kebutuhan manusia dan membebaskan mereka dari kesulitan yang telah dihadapi masyarakat. Menyusun strategi dakwah adalah langkah kedua yang harus dilakukan. Dua strategi utama untuk pengembangan dakwah, menurut Larry Poston, adalah strategi internal-personal dan strategi eksternal-institusional.

Strategi internal-personal menekankan peningkatan atau peningkatan kualitas kehidupan individu, sedangkan strategi eksternal-institusional menekankan pada pembangunan struktur organisasi masyarakat. Dalam aplikasinya, kedua pendekatan tersebut tidak bekerja secara terpisah atau secara hirarkis; sebaliknya, mereka bekerja bersama dan saling mengisi. Rasulullah pernah menggunakan dua pendekatan ini saat mengembangkan dakwahnya. Dia membuat strategi internal-personal di Mekkah. Ini terlihat dari banyaknya pelajaran akidah yang diberikan Rasulullah kepada para Sahabatnya yang baru masuk Islam.

Strategi ini sangat penting untuk menyiapkan generasi yang matang, kokoh, dan bermoral tinggi untuk mengemban dan mengembangkan Islam di masa depan. Beliau mengembangkan pendekatan dakwah yang bersifat eksternal-institusi selama tinggal di kota Madinah. Beliau membangun institusi, mempersaudarakan Sahabat, dan menyebarkan dakwah ke banyak tempat di Jazirah Arabiyah. Dua pendekatan yang diusulkan oleh Rasulullah tidak dilihat secara parsial. Artinya, kita memprioritaskan satu strategi dan melemahkan yang lain.

Strategi yang digunakan Rasulullah di Mekkah lebih baik daripada yang dia gunakan di Madinah, atau sebaliknya, mereka harus dibuang jauh jauh. Strategi yang digunakan Rasulullah di Mekkah berfungsi sebagai dasar untuk strategi yang dia gunakan di Madinah. Akibatnya, dua strategi ini dapat dianggap sebagai komplementer dan linier karena keduanya dapat berkembang secara berkesinambungan dan dapat saling mengisi satu samalain.

Dua pendekatan ini dapat digunakan dalam situasi saat ini. Majelis ta’lim, halaqah, kelompok tarekat, tabligh akbar, konseling, dan sebagainya adalah beberapa contoh aktivitas dakwah yang dapat digunakan untuk membangun strategi internal-personal. Bukan hanya masalah fikih dan akidah yang dibahas, tetapi juga masalah tentang mu’amalah, etos kerja, gender, politik, kesadaran masyarakat dan negara. Selain itu, perubahan harus dilakukan pada arahan atau cara penyampaiannya.

Penggunaan media seperti slide, papan tulis, catatan makalah, atau kitab harus diimbangi dengan metode ceramah (lecturing). Selain itu, dakwah dapat diubah menjadi pendekatan yang lebih partisipatif. Artinya, audiens dapat berpartisipasi dalam mendiskusikan masalah yang dia hadapi. Dalam proses menciptakan pendekatan dakwah yang bersifat eksternatif institusional, upaya dakwah dapat mencakup berbagai aspek kehidupan yang ada di masyarakat.

Dengan memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dan profesional, dakwah dapat memasuki lini di bidang pendidikan. Dakwah dapat memasuki dunia kesehatan dengan mendirikan rumah sakit atau lembaga kesehatan yang baik. Dakwah juga dapat memasuki dunia ekonomi dengan mendirikan lembaga perekonomian dan membangun ekonomi yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Terakhir, dakwah juga dapat masuk ke bidang politik, sosial, dan lain-lain.

Dalam kenyataannya, dakwah kita tampaknya masih berfokus pada strategi internal-personal dan kurang mengembangkan strategi eksternal-institusi. Selain itu, pengembangan strategi pertama masih berfokus pada model tradisional yang mengandalkan metode ceramah dan materi yang berfokus pada fikih dan akidah. Meskipun demikian, umat Islam di era modern telah mengalami transformasi dan perkembangan yang rumit sebagai hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, strategi dan aktivitas dakwah harus dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

Subyek atau pelaku dakwah profesional harus dipersiapkan untuk langkah berikutnya. Rencana dan strategi yang efektif tidak akan berhasil jika para pelakunya tidak memiliki kemampuan dan keterampilan yang diperlukan. Penulis berpendapat bahwa pelaku dakwah bukan hanya seorang da’i; mereka juga harus memiliki perencana dan pengelola dakwah. Ketiganya disebut da’i. Perbedaannya terletak pada bidang tugas yang sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki seorang da’i untuk mendakwahkan subjeknya. Di sinilah perlunya lembaga pendidikan tinggi dan organisasi dakwah untuk mempersiapkan para dakwah profesional. 

Categories: