Agama, menurut Clifford Gertz, adalah sebuah sistem simbol-simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresap, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.163 Senada dengan Geertz, agama menurut Peter L. Berger yang dikutip oleh Luthfi Hamidi merupakan semesta simbolik yang memberi makna pada kehidupan manusia dan yang memberikan penjelasan paling komprehensif tentang realitas seperti kematian, penderitaan, tragedi dan ketidakadilan.”Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993, hlm. 5.”
Dengan demikian, agama sebagai sebuah simbol merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Agama berperan dalam menjawab persoalan-persoalan dasar yang berkaitan dengan alam kehidupan yang supranatural. Sementara ilmu pengetahuan tidak mampu memberikan penjelasan tentang hal tersebut. Selain itu, menurut pandangan kaum fungsional, agama dapat berfungsi sebagai institusi pemersatu masyarakat antara satu sistem dengan sistem yang lainnya.
Peran lain dari agama dapat kita baca juga dari kajian yang dilakukan oleh Max Weber dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Weber mengatakan bahwa asketisme Kristen sebagai sumber pendekatan rasional dan sistematis yang mendorong Kapitalisme di Barat.
Kajian Weber juga diikuti oleh Robert N. Bellah yang mengkaji agama Tokugawa. Menurutnya, agama Tokugawa merupakan faktor penting dalam modernisasi Jepang. Hal ini disebabkan karena agama Tokugawa termasuk agama yang menginginkan untuk bekerja keras, menghindari pemborosan waktu dan hidup hemat serta jujur.
Dari dua kajian tersebut menjadi jelas bahwa agama dapat memberikan peran yang berarti dalam melakukan perubahan, pada aspek ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Menanggapi adanya keraguan dari kaum modernis terhadap peran agama, Budhy Munawar Rachman menuturkan: “Agama dengan segala klaim kebenarannya memang bisa menjadi dasar sosiologis penyebab konflik-konflik sosial-politik. Untuk merelativisir potensi-potensi kekerasan yang bisa muncul dari orang-orang yang beragama yang bisa berakar dari klaim-klaim atas kebenaran yang sepihak ini tampaknya bisa diatasi dengan memperluas pandangan dan visi eligiositas dari diri orang yang beragama”.
Selain itu, menurut penulis, para pemeluk agama dapat mengaplikasikan nilai-nilai keagamaannya dalam aktivitas sehari-hari dan dalam kerja-kerja kemanusiaan. Oleh karena itu, peran para pemimpin dan lembaga agama menjadi urgen dalam memberikan wawasan, pemahaman dan keteladanan dalam menjalankan ajaran agama.
Categories: