Setelah memahami posisi, tugas, dan peran mereka sebagai manusia, langkah selanjutnya adalah melakukan kontrol terus menerus terhadap diri mereka sendiri. Untuk melakukan kontrol ini, manusia harus melakukan dakwah terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu, dakwah nafsiyah sangat penting untuk dilakukan. Para ulama dan penulis kitab dakwah masih jarang menggunakan istilah dakwah nafsiyah. Mereka biasanya berbicara tentang jiwa (nafs) melalui lensa tasawuf, akhlak, dan psikologi Islam. Ulama seperti Al-Ghazali dan Ibn Qayyim banyak berbicara tentang jiwa. Mereka tidak menyebutkan dakwah nafsiyah dalam tulisannya.
Apakah dakwah nafsiyah dapat dipertanggungjawabkan secara epistemologis dalam kajian keilmuan dakwah? Problem dasar yang perlu diperdebatkan adalah tentang mad’u (objek dakwah) dan metodenya. Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit objek dakwah. Sebaliknya, dia menggunakan nilai-nilai seperti “ajaklah ke jalan Tuhanmu” (QS. 16: 125), “hendaklah kamu mengajak kepada kebaikan, menyuruh yang baik, dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3: 104,110) ketika berbicara tentang dakwah. Oleh karena itu, formulasi dan turunan epistemologi dari persoalan konteks mad’u ditugaskan kepada para pemikir.
Seorang pionir yang memperkenalkan istilah “dakwah nafsiyah”, Shukriadi Sambas, menyatakan bahwa dakwah nafsiyah secara leksikal berarti mengajak diri sendiri atau mendakwahi diri sendiri. Dengan kata lain, itu adalah proses menginternalisasi ajaran Islam dalam diri setiap Muslim sehingga mereka dapat memanfaatkan fitrah diniyah mereka untuk berperilaku secara agama sesuai dengan aturan syari’at Islam yang berasal dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dari uraian dan definisi dakwah nafsiyah yang disebutkan di atas, jelas bahwa masalah mad’u tidak menjadi masalah karena itu merupakan bagian dari ijtihad para pemikir sehingga mudah digunakan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa prasyarat untuk terjadi dakwah nafsiyah merupakan salah satu konteks dari dakwah ilallah, bukan dakwah secara bahasa atau secara umum. Karena itu, yang berdakwah harus orang yang sudah masuk Islam, dan tidak dapat berlaku untuk orang yang belum masuk Islam.
Dalam hal metodologi dakwah nafsiyah, beberapa pendekatan yang telah berkembang di kalangan para filosof, ahli tasawuf, dan ahli psikologi Islam harus dipelajari secara menyeluruh. Pendekatan-pendekatan ini dapat digunakan sebagai sumber untuk pengembangan lebih lanjut dari metodologi dakwah nafsiyah. Hal ini tidak menjadi masalah karena dalam era modern, teori-teori saling terkait dan dapat saling memanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan. Teori komunikasi juga banyak berasal dari sosiologi dan psikologi.
Menurut Mehdi Ha’iri Yazdi, ilmu hudhuri mengacu pada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman mystical dan tentang diri, perasaan, dan keadaan pribadi. Teori-teori ilmu hudhuri dapat digunakan sebagai landasan teori untuk membangun metodologi dakwah nafsiyah. Dengan cara yang sama, teori-teori ahli sufi, seperti al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauzi, yang banyak membahas tentang jiwa, dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan pendekatan dakwah nafsiyah. Paling tidak, tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam dakwah nafsiyah telah dikembangkan oleh kaum sufi. Yang pertama adalah wiqayatunnafs, yang berarti memelihara diri dari segala hal yang dapat merusak amal kita, seperti dengki, sum’ah, riya, dan sebagainya. Yang kedua adalah muhasabatunnafs, yang berarti introspeksi diri dari kelebihan dan kekurangan kita sendiri sehingga kita dapat bertindak secara proporsional dan bijaksana. Ketiga, tathwirunnafs, yang berarti pengembangan diri untuk membantu diri sendiri dan orang lain.
Dalam hal upaya mengontrol diri melalui dakwah nafsiyah, tujuan utamanya adalah agar mereka yang menyatakan diri sebagai Muslim dapat secara konsisten meningkatkan dan meningkatkan keimanan mereka. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keimanan, yaitu:
- Iman adalah cahaya ilahi yang diberikan kepada kita sejak kita lahir.
Ini adalah fitrah kehidupan manusia. Dalam surat al-A’rar ayat 172, Allah mengatakan, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami),” kami menjadi saksi,” agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Kami (bani Adam) adalah orang-orang yang Sayyid Qutb berpendapat bahwa fitrah ini tidak berubah dalam diri manusia. Semua orang pasti akan mengakui bahwa Tuhan ada. Bagaimana mereka berkomunikasi dan memahami Tuhan adalah masalahnya.
Iman dapat melemah, kata Masdar F. Mas’udi. Namun, penyebabnya tidak mungkin berasal dari berkurangnya voltase cahaya yang bersifat spiritual. Faktor material seperti kemiskinan atau kekufuran adalah yang paling penting. Orang Islam yang baik dan menghayati keimanannya pasti akan melihat dunia ini dengan optimis dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalahnya, termasuk yang material. Selain itu, Dr. Brill menyatakan bahwa seorang agamawan benar-benar tidak akan pernah mengalami sakit jiwa. Seorang psikolog Dale Carnegie mengatakan bahwa para dokter jiwa mengetahui bahwa iman yang kuat dan keteguhan terhadap ajaran agama dapat membantu mengatasi kegelisahan dan kerisauan serta menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Erich Fromm mengembangkan teori tentang “memiliki” (memiliki) dan “menjadi” (menjadi). Erich Fromm menggunakan kedua kata ini sebagai dua orientasi hidup yang berbeda untuk meningkatkan iman kita. Orientasi karakter produktif dan tidak produktif Dalam orientasi memiliki, kecenderungan untuk menjadikan setiap orang dan semua hal sebagai miliknya, termasuk dirinya sendiri, adalah ciri utamanya. Memiliki berarti mengontrol, memberikan hak kepada orang lain, dan memperlakukan segala sesuatu sebagai milik mereka sendiri. Karena ia tidak mampu menentukan dirinya dari dalam dan dari luar, modus memilikinya adalah pasif. Akibatnya, kecemasan selalu menyertainya karena apa yang ia miliki selalu terancam hilang.
Pertama-tama, modus mengada (to be) ditandai oleh aktivitas produktif, sikap mandiri, kritis, dan bebas. “Beriman” dalam modus mengada lebih merupakan perasaan pribadi. Jika seseorang menghayati iman dengan cara memiliki, mereka dapat menekankan makna dari apa yang mereka percaya serta keyakinan yang diberikan oleh pihak berwenang. Membangun sikap batin yang produktif, inovatif, bebas, dan mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari dapat membantu meningkatkan iman, seperti yang dikatakan Karl Marx: “Makin berkurang anda menjadi diri anda, dan makin sedikit yang anda ungkapkan dari kehidupan anda, makin banyak anda memiliki dan makin besar keterasingan hidup anda.”
2. Senantiasa berdzikir kepada Allah dengan diam dan bicara.
Dikrullah adalah penawar jiwa yang paling kuat dan senjata yang paling efektif untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, kesusahan hidup, dan bencananya. Inilah yang dibutuhkan setiap orang di era kontemporer seperti saat ini. Dalam ayat 28 dari surah ar-Ra’d, Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
3. Selalu berdo’a
Umar bin Abdul Aziz selalu berdoa dan mengirim surat kepada Ady bin Ady bahwa iman memiliki beberapa kewajiban, syarat, batasan, dan jalan. Jika seseorang menyempurnakan semua itu, keimanannya akan menjadi lebih baik, dan jika seseorang tidak melakukannya, imannya tidak sempurna. “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi lusuh dalam diri salah seorang dari kamu sebagaimana lusuhnya pakaian. Karena itu, memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu,” kata Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan al-Hakim.










