Dalam surah al-Mu’minun, ayat 23, ayat 12-16, Allah berkata, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian Kami jadikan segumpal darah, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain). Uraian yang senada (sama) tentang proses penciptaan secara fisik ini dapat dilihat di dalam surat al-Hajj (22): 5
Dalam al Qur’an, surat as-Sajdah (32) ayat 7-9 disebutkan tentang penciptaan roh manusia sebagai berikut: “Yang membuat segala sesuatu sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari air mani yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan rohNya ke dalam tubuh, dan Dia menjadikan hati, pendengaran, dan penglihatan bagimu, (tetapi) kamu sedikit sekali.”
Ternyata ada dua sifat yang saling menarik di dalam diri manusia dari dua unsur yang berbeda ini. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. asy-Syams (91): 8). Di satu sisi, karena manusia berasal dari tanah, unsur rendah yang digunakan oleh manusia dan menjadi tempat kotoran, manusia pasti memiliki sifat-sifat yang buruk. Al-Qur’an banyak menggambarkan hal ini, seperti sombong (4: 36), iri hati (2: 109), melampaui batas (96: 6-7), kikir (17: 100), suka tergesa-gesa (17: 11), dan suka keluh kesah (70: 19-20), antara lain. Di sisi lain, di dalam diri manusia ada roh yang suci keberadaannya. Karena itu, di dalam diri manusia ada sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat yang cenderung kepada Tuhan.
Manusia diberi kebebasan untuk menentukan sikapnya sendiri, sehingga mereka dapat mengidentifikasi dan menjelaskan kehidupan yang baik. Apakah ia memilih jalan yang buruk atau yang baik? Dengan demikian, akal dan nafsu adalah alat atau potensi yang diberikan Allah kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Jika kedua alat ini digunakan dengan benar, manusia tidak akan terjerumus dalam jalan kehidupannya. Manusia lebih cenderung berbuat baik daripada berbuat jahat. Akibatnya, manusia harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas keputusan mereka. Manusia diciptakan untuk melakukan sesuatu dengan tujuan yang jelas. “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan (tanpa tanggung jawab)?” (QS. al-Qiyamah (75): 36), dan dalam ayat lain, “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara cuma-cuma saja, dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mu’minun (23): 115).
Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” Ini menunjukkan bahwa kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir.(Q. al-Qiyamah (75): 36). Manusia memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja di dunia, baik hal-hal baik maupun hal-hal buruk. Seseorang dianggap sebagai manusia yang baik jika mereka melakukan hal-hal baik; sebaliknya, jika mereka melakukan hal-hal jahat, mereka dianggap sebagai manusia yang tidak baik. Akibatnya, hakikat keberadaan manusia ditentukan oleh amal (perbuatan) manusia.
Manusia membutuhkan arah atau petunjuk agar amal dunianya tidak sia-sia. Dalam situasi seperti ini, manusia dapat memanfaatkan akal yang diberikan Tuhan kepada mereka. Akal digunakan untuk mencari dan menciptakan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa ayatnya, Al-Qur’an mendorong orang untuk belajar. Dengan ilmu, Adam dapat mengalahkan makhluk Tuhan yang lainnya dan malaikat sujud kepadanya (QS. al-Baqarah: 31-34), manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT (QS. al-Mujadalah: 11), orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu (QS. az-Zumar: 9), dan berbagai kelebihan lain yang ditunjukkan oleh Allah kepada orang-orang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Orang dapat menggunakan ilmu mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik atau merusak alam semesta dan manusia. Seperti bom yang awalnya dibuat oleh manusia untuk memanfaatkan alam, tetapi digunakan oleh manusia untuk menghancurkan dan menyengsarakan manusia. Dengan cara yang sama, individu yang sangat pintar dapat membobol uang bank dengan menggunakan teknologi komunikasi. Selain itu, ilmu membuat banyak orang korup dan memanipulasi orang untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Oleh karena itu, ilmu bergantung pada manusia sendiri untuk menjadi baik atau buruk.
Iman akan membimbing manusia untuk mencegah manusia menyimpang dari ilmu. Iman adalah landasan utama yang mengarahkan manusia ke arah tujuan hidup yang sebenarnya. Iman adalah proses pembenaran hati, dan Anda harus melakukannya dengan melakukan amal sehari-hari. Mereka yang beriman memiliki hati yang tenang, selalu mengingat atau berdzikir kepada Allah, dan memiliki optimisme (semangat yang tinggi) dalam menjalankan kehidupan dunia mereka.
Dengan iman yang mendalam, manusia percaya bahwa mereka akan memikul tugas yang diberikan oleh Allah kepada mereka: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya, dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” Manusia benar-benar kejam dan bodoh. Sehingga Allah menghukum orang munafik dan musyrik, dan orang mukmin bertaubat. Selain itu, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Ahzab: 72–73).
Amanah yang diberikan Allah kepada manusia berkaitan dengan peran mereka sebagai manusia di dunia ini. Kewajiban manusia adalah menjadi hamba Allah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (QS. adz-Dzariyat: 56). Orang yang bekerja sebagai hamba harus mematuhi undang-undang atau peraturan yang ditetapkan oleh majikannya. Aturan-aturan ini dapat kita ketahui melalui berita yang disampaikan oleh seorang Rasul, khususnya dari al-Qur’an dan Hadits Rasulullah.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. al-Baqarah (2): 30). Tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memakmurkan alam semesta ini, seperti yang dinyatakan dalam ayat “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (Hud (11): 61). Tentu saja, cara terbaik untuk memakmurkan alam semesta ini adalah dengan Oleh karena itu, iman, ilmu, dan amal sangat penting untuk menjalankan tugas manusia di dunia ini.










